By.Indri fitriani
Etiologi
Pada dasarnya retensi sekundinae
atau retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon foetal dari
kripta karankula maternal. Pada sapi, retensi plasenta dapat disebabkan
beberapa faktor yaitu: (1) Gangguan mekanis (hanya 0,3% kasusnya), yaitu
selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat
terlepas dan keluar dari alat kelamin karena masuk dalam kornu uteri yang tidak
bunting, atau kanalis servikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga selaput
fetus terjepit (Hardjopranjoto,1995). (2) Induk kekurangan kekuatan untuk
mengeluarkan sekundinae setelah melahirkan. Ini disebabkan adanya atoni uteri
pasca melahirkan (kasusnya 1–2%). Mungkin juga karena defisiensi hormon yang
menstimulir kontraksi uterus pada waktu melahirkan, seperti oksitosin atau
estrogen. Atoni uteri pasca melahirkan juga bisa disebabkan oleh berbagai penyakit
seperti penimbunan cairan dalam selaput fetus, torsio uteri, kembar, distokia
dan kondisi patologik lainnya (Toilehere, 1985), (3) gangguan pelepasan
sekundinae yang berasal dari karankula induk. Ini adalah kasus yang paling
sering terjadi dan dapat mencapai 98%, (4) Avitaminosa–A menyebabkan retensi
plasenta, karena kemungkinan besar vitamin A perlu untuk mempertahankan
kesehatan dan resistensi epitel uterus dan plasenta. Retensi plasenta terjadi
pada 69% sapi dari suatu kelompok ternak yang diberikan makanan dengan kadar
karoten yang rendah (Toilehere,1985)
Gejala
Gejala pertama yang tampak adalah
adanya selaput fetus yang menggantung diluar alat kelamin
(Hardjopranjoto,1995). Kadang–kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva
tapi tetap menetap dalam uterus dan vagina. Pemeriksaan terhadap selaput fetus
sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui apakah terjadi retensi atau
tidak. Pemeriksaan melalui uterus dapat dilakukan dalam waktu 24– 36 jam post
partus. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke
dalam uterus atau selaput fetus dalam servik. Adanya selaput fetus di dalam
cervik cenderung menghambat kontraksi servik (Toelihere,1985).
Sekitar 75–80% sapi dengan retensi
sekundinae tidak menunjukkan tanda–tanda sakit. Sekitar 20- 25% memperlihatkan
gejala–gejala metritis seperti anorexia, depresi, suhu badan tinggi, pulsus
meningkat dan berat badan turun (Toelihere,1985).
Prognosa
Pada kasus tanpa komplikasi, angka
kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik
dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus
retensi ini kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang
menurun, kelambatan involusi dan konsepsi (Toelihere,1985).
Diagnosa
Diagnosa dilakukan berdasarkan
adanya sekundinae yang keluar dari alat kelamin. Bila sekundinae hanya tinggal
sedikit dalam alat kelamin, diagnosa dapat dilakukan dengan eksplorasi vaginal
memakai tangan dan dengan terabanya sisa sekundinae atau kotiledon yang masih
teraba licin karena masih terbungkus oleh selaput fetus. Karunkula yang sudah
terbebas dari lapisan sekundinae, akan teraba seperti beludru. Kalau tidak ada
sekundinae yang menggantung diluar kelamin, jangan dikatakan tidak ada retensi
sekundinarium. Mungkin sekundinae masih tersisa dan tersembunyi didalam rongga
uterus (Hardjopranjoto,1995).
Terapi
Pengobatan
terhadap retensi sekundinae sangat tergantung kepada sebab–sebabnya dan ada
tidaknya gejala peradangan. Pertolongan terhadap retensi sekundinarium
ditujukan pada pengeluaran sekundinae dari alat kelamin secepat-cepatnya dan
diupayakan agar kesuburan induk penderita tetap baik (Hardjopranjoto,1995).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar