KALA III
Oleh : Ambar Dwi Astuti
Mekanisme Pelepasan Uri
Kontrasi
rahim akan mengurangi area uri, karena rahim bertambah kecil dan dindingnya
bertambah tebal beberapa sentimeter. Kontraksi-kontraksi tadi menyebabkan
bagian yang longgar dan lemah dari uri pada dinding rahim; bagian ini akan
terlepas, mula-mula sebagian dan kemudian seluruhnya dan tinggal bebas dalam
kavum uteri. Kadang-kadang ada sebagian kecil uri yang masih melekat pada
dinding rahim.
Proses
pelepasan ini biasanya setahap demi setahap dan pengumpulan darah di belakang uri
akan membantu pelepasan uri ini. Bila pelepasan uri sudah komplit, maka
kontraksi rahim mendorong uri yang sudah lepas ke SBR, lalu ke vagina dan
dilahirkan.
Selaput
ketubanpun dikeluarkan, sebagian oleh kontraksi rahim, sebagian waktu keluarnya
uri. Di tempat-tempat yang lepas terjadi perdarahan antara uri dan desidua
basalis, disebut retroplasenter hematoma.
Jadi
jelaslah, bahwa setelah anak lahir tugas kita belum selesai, masih ada satu hal berat yang masih dapat
mengancam jiwa ibu, yaitu pimpinan kala
III dan pengawasan kala IV.
Pembagian Fase Kala Uri
1.
Fase pelepasan uri
Sebab – sebab terlepasnya plasenta :
a) Waktu bayi
dilahirkan rahim sangat mengecil. Karena pengecilan rahim, tempat perlekatan
plasenta juga ikut mengecil maka plasenta akan berlipat-lipat bahkan ada bagian
– bagian yang terlepas dari dinding rahim atau tempat insersinya, karena tidak
dapat mengikuti pengecilan dari dasarnya.Jadi secara singkat, bagian yang
paling penting dalam pelepasan plasenta adalah retraksi dan kontraksi
otot – otot rahim.
b) Di tempat –
tempat yang lepas terjadi perdarahan ialah antara plasenta dan desidua basalis
dan karena hematoma ini membesar, maka seolah – olah plasenta terangkat dari
dasarnya oleh hematoma tersebut sehingga daerah pelepasan meluas.
Ø Tanda –tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa hal :
1) Perubahan
bentuk dan tinggi fundus
2) Tali pusat
memanjang
3) Semburan
darah mendadak dan singkat
Macam pelepasan plasenta yaitu :
1) Secara Schultze
Pelepasan dimulai pada bagian tengah dari plasenta dan di sini terdapat
hematoma retro plasentair yang selanjutnya mengangkat plasenta dari dasarnya.
Plasenta dengan hematoma di atasnya sekarang jatuh ke bawah atau menarik lepas
selaput janin. Bagian plasenta yang nampak dalam vulva ialah permukaan futal,
sedangkan hematoma sekarang terdapat dalam kantong yang terputar balik.
Pelepasan secara schultze paling sering dijumpai.
2) Secara Duncan
Pada pelepasan secara Duncan, pelepasan dimulai dari pinggir plasenta.
Darah mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim, jadi perdarahan
sudah ada sejak sebagian dari plasenta terlepas dan terus berlangsung sampai
seluruh plasenta lepas. Plasenta lahir dengan pinggirnya terlebih dahulu.
Pelepasan secara Duncan terutama terjadi plasenta letak rendah.
2. Fase pengeluaran uri
Uri yang
sudah terlepas oleh kontraksi rahim akan didorong kebawah yang oleh rahim
dianggap sebagai benda asing. Hal ini dibantu pula oleh tekanan abdominal atau
mengejan, maka uri akan dilahirkan, 20% secara spontan, dan selebihnya
memerlukan pertolongan.
Perasat-perasat
untuk mengetahui lepasnya uri:
a. Perasat
Kustner
Tangan kanan merengangkan atau
menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri menekan daerah diatas simfisis. Bila
tali pusat masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta belum lepas dari
dinding uterus. Bila tetap dan tidak masuk kembali kedalam vagian, berarti
plasenta lepas dari dinding uterus. Perasat ini hendaknya dilakukan secara
hati-hati, apabila hanya sebagian plasenta terlepas, perdarahan banyak akan dapat
terjadi.
b. Perasat Strassman
Tangan kanan meregangkan dan menarik
sedikit tali pusat. Tangan kiri mengetok-ngetok fundus uteri. Bila terasa
getaran pada tali pusat yang diregangkan, berarti plasenta belum lepas dari
dinding uterus. Bila tidak terasa getaran,berarti telah lepas dari dinding
uterus.
c. Perasat Klein
Wanita tersebut disuruh mengedan.
Tali pusat tampak turun kebawah, mengedannya dihentikan dan tali pusat masuk
kembali kedalam vagian berarti plasenta telah lepas dari dinding uterus.
Penatalaksanaan
aktif pada kala uri (pengeluaran aktif plasenta) membantu menghindarkan terjadinya
perdarahan pasca persalinan.
Penatalaksanaan aktif kala III meliputi:
Penatalaksanaan aktif kala III meliputi:
· Pemberian
oksitosin dengan segera
· Pengendalian
tarikan pada tali pusat, dan
· Pemijatan
uterus segera setelah plasenta lahir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar