Kamis, 15 Mei 2014

KALA III PERSALINAN By: Ambar Dwi Astuti



KALA III

Oleh : Ambar Dwi Astuti

          
Kala III adalah kala uri atau waktu pelepasan plasenta dari insersinya sampai lahirnya plasenta dan selaput plasenta. Pada kala ini dimulai saat proses kelahiran bayi selesai dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Proses ini dikenal sebagai kala persalinan plasenta. Normalnya pelepasan uri ini berkisar 5-30 menit sesudah anak lahir.
 Mekanisme Pelepasan Uri
Kontrasi rahim akan mengurangi area uri, karena rahim bertambah kecil dan dindingnya bertambah tebal beberapa sentimeter. Kontraksi-kontraksi tadi menyebabkan bagian yang longgar dan lemah dari uri pada dinding rahim; bagian ini akan terlepas, mula-mula sebagian dan kemudian seluruhnya dan tinggal bebas dalam kavum uteri. Kadang-kadang ada sebagian kecil uri yang masih melekat pada dinding rahim.
Proses pelepasan ini biasanya setahap demi setahap dan pengumpulan darah di belakang uri akan membantu pelepasan uri ini. Bila pelepasan uri sudah komplit, maka kontraksi rahim mendorong uri yang sudah lepas ke SBR, lalu ke vagina dan dilahirkan.
Selaput ketubanpun dikeluarkan, sebagian oleh kontraksi rahim, sebagian waktu keluarnya uri. Di tempat-tempat yang lepas terjadi perdarahan antara uri dan desidua basalis, disebut retroplasenter hematoma.
Jadi jelaslah, bahwa setelah anak lahir tugas kita belum selesai,  masih ada satu hal berat yang masih dapat mengancam jiwa ibu, yaitu pimpinan kala III dan pengawasan kala IV.
 Pembagian Fase Kala Uri
1.    Fase pelepasan uri
Sebab – sebab terlepasnya plasenta :
a)    Waktu bayi dilahirkan rahim sangat mengecil. Karena pengecilan rahim, tempat perlekatan plasenta juga ikut mengecil maka plasenta akan berlipat-lipat bahkan ada bagian – bagian yang terlepas dari dinding rahim atau tempat insersinya, karena tidak dapat mengikuti pengecilan dari dasarnya.Jadi secara singkat, bagian yang paling penting dalam pelepasan plasenta adalah retraksi dan kontraksi otot – otot rahim.
b)    Di tempat – tempat yang lepas terjadi perdarahan ialah antara plasenta dan desidua basalis dan karena hematoma ini membesar, maka seolah – olah plasenta terangkat dari dasarnya oleh hematoma tersebut sehingga daerah pelepasan meluas.
Ø Tanda –tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa hal :
1)   Perubahan bentuk dan tinggi fundus
2)   Tali pusat memanjang
3)   Semburan darah mendadak dan singkat
Macam pelepasan plasenta yaitu :
1)   Secara Schultze         
Pelepasan dimulai pada bagian tengah dari plasenta dan di sini terdapat hematoma retro plasentair yang selanjutnya mengangkat plasenta dari dasarnya. Plasenta dengan hematoma di atasnya sekarang jatuh ke bawah atau menarik lepas selaput janin. Bagian plasenta yang nampak dalam vulva ialah permukaan futal, sedangkan hematoma sekarang terdapat dalam kantong yang terputar balik. Pelepasan secara schultze paling sering dijumpai.
2)   Secara Duncan
Pada pelepasan secara Duncan, pelepasan dimulai dari pinggir plasenta. Darah mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim, jadi perdarahan sudah ada sejak sebagian dari plasenta terlepas dan terus berlangsung sampai seluruh plasenta lepas. Plasenta lahir dengan pinggirnya terlebih dahulu. Pelepasan secara Duncan terutama terjadi plasenta letak rendah.
2.      Fase pengeluaran uri
Uri yang sudah terlepas oleh kontraksi rahim akan didorong kebawah yang oleh rahim dianggap sebagai benda asing. Hal ini dibantu pula oleh tekanan abdominal atau mengejan, maka uri akan dilahirkan, 20% secara spontan, dan selebihnya memerlukan pertolongan.
Perasat-perasat untuk mengetahui lepasnya uri:
a.       Perasat Kustner           
Tangan kanan merengangkan atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri menekan daerah diatas simfisis. Bila tali pusat masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta belum lepas dari dinding uterus. Bila tetap dan tidak masuk kembali kedalam vagian, berarti plasenta lepas dari dinding uterus. Perasat ini hendaknya dilakukan secara hati-hati, apabila hanya sebagian plasenta terlepas, perdarahan banyak akan dapat terjadi.
b.      Perasat Strassman
Tangan kanan meregangkan dan menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri mengetok-ngetok fundus uteri. Bila terasa getaran pada tali pusat yang diregangkan, berarti plasenta belum lepas dari dinding uterus. Bila tidak terasa getaran,berarti telah lepas dari dinding uterus.
c.       Perasat Klein
Wanita tersebut disuruh mengedan. Tali pusat tampak turun kebawah, mengedannya dihentikan dan tali pusat masuk kembali kedalam vagian berarti plasenta telah lepas dari dinding uterus.
Penatalaksanaan aktif pada kala uri (pengeluaran aktif plasenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pasca persalinan.
Penatalaksanaan aktif kala III meliputi:
·  Pemberian oksitosin dengan segera
·  Pengendalian tarikan pada tali pusat, dan
·  Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar