Kamis, 08 Mei 2014

Partograf






Untuk menjamin kelangsungan hidup ibu dan bayi, bidan harus menerapkan Asuhan Persalinan Normal (APN) sebagai dasar dalam melakukan pertolongan persalinan. Sebagai usaha mencegah terjadinya partus lama, APN mengandalkan penggunaan partograf sebagai salah satu praktik pencegahan dan deteksi dini. Partograf merupakan lembar berupa grafik yang digunakan untuk melakukan pemantauan persalinan (Depkes, 2004).
Menurut WHO (1994) pengenalan partograf sebagai protokol dalam manjemen persalinan terbukti dapat mengurangi persalinan lama dari 6,4% menjadi 3,4%. Kegawatan bedah sesaria turun dari 9,9% menjadi 8,3%, lahir mati intrapartum – dari 0,5% menjadi (0,3%), kejadian bedah sesaria turun dari 6,2% menjadi 4,5%. WHO sangat merekomendasikan penggunaan partograf dalam ruang bersalin.
Menurut Mochtar (1998), dengan menggunakan partograf jika diperlukan dapat dengan tepat merujuk pasien ke tempat pelayanan dengan fasilitas yang lebih lengkap. Sementara menurut Sumapraja (1993) partograf adalah catatan grafik mengenai kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin, untuk menentukan adanya persalinan abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan bedah kebidanan dan menemukan Disproporsi Kepala Panggul (DKP) jauh sebelum persalinan menjadi macet.
Menurut WHO (1994) partograf merupakan suatu sistem yang tepat untuk memantau keadaan ibu dan janin dari yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke waktu. Partograf standar WHO dapat membedakan dengan jelas perlu atau tidaknya intervensi dalam persalinan. Juga dapat dengan jelas dapat membedakan persalinan normal dan abnormal dan mengidentifikasi wanita yang membutuhkan intervensi.


Untuk menjamin kelangsungan hidup ibu dan bayi, bidan harus menerapkan Asuhan Persalinan Normal (APN) sebagai dasar dalam melakukan pertolongan persalinan. Sebagai usaha mencegah terjadinya partus lama, APN mengandalkan penggunaan partograf sebagai salah satu praktik pencegahan dan deteksi dini. Partograf merupakan lembar berupa grafik yang digunakan untuk melakukan pemantauan persalinan (Depkes, 2004).
Menurut WHO (1994) pengenalan partograf sebagai protokol dalam manjemen persalinan terbukti dapat mengurangi persalinan lama dari 6,4% menjadi 3,4%. Kegawatan bedah sesaria turun dari 9,9% menjadi 8,3%, lahir mati intrapartum – dari 0,5% menjadi (0,3%), kejadian bedah sesaria turun dari 6,2% menjadi 4,5%. WHO sangat merekomendasikan penggunaan partograf dalam ruang bersalin.
Menurut Mochtar (1998), dengan menggunakan partograf jika diperlukan dapat dengan tepat merujuk pasien ke tempat pelayanan dengan fasilitas yang lebih lengkap. Sementara menurut Sumapraja (1993) partograf adalah catatan grafik mengenai kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin, untuk menentukan adanya persalinan abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan bedah kebidanan dan menemukan Disproporsi Kepala Panggul (DKP) jauh sebelum persalinan menjadi macet.
Menurut WHO (1994) partograf merupakan suatu sistem yang tepat untuk memantau keadaan ibu dan janin dari yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke waktu. Partograf standar WHO dapat membedakan dengan jelas perlu atau tidaknya intervensi dalam persalinan. Juga dapat dengan jelas dapat membedakan persalinan normal dan abnormal dan mengidentifikasi wanita yang membutuhkan intervensi. 

Oleh : Any Mega Ningrum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar