Untuk menjamin kelangsungan hidup
ibu dan bayi, bidan harus menerapkan Asuhan
Persalinan Normal (APN) sebagai dasar dalam melakukan pertolongan
persalinan. Sebagai usaha mencegah terjadinya partus lama, APN mengandalkan
penggunaan partograf sebagai salah satu praktik pencegahan dan deteksi dini.
Partograf merupakan lembar berupa grafik yang digunakan untuk melakukan
pemantauan persalinan (Depkes, 2004).
Menurut WHO (1994) pengenalan
partograf sebagai protokol dalam manjemen persalinan terbukti dapat mengurangi
persalinan lama dari 6,4% menjadi 3,4%. Kegawatan bedah sesaria turun dari 9,9%
menjadi 8,3%, lahir mati intrapartum – dari 0,5% menjadi (0,3%), kejadian bedah
sesaria turun dari 6,2% menjadi 4,5%. WHO sangat merekomendasikan penggunaan
partograf dalam ruang bersalin.
Menurut Mochtar (1998), dengan
menggunakan partograf jika diperlukan dapat dengan tepat merujuk pasien ke
tempat pelayanan dengan fasilitas yang lebih lengkap. Sementara menurut
Sumapraja (1993) partograf adalah catatan grafik mengenai kemajuan persalinan
untuk memantau keadaan ibu dan janin, untuk menentukan adanya persalinan
abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan bedah kebidanan dan menemukan
Disproporsi Kepala Panggul (DKP) jauh sebelum persalinan menjadi macet.
Menurut WHO (1994) partograf
merupakan suatu sistem yang tepat untuk memantau keadaan ibu dan janin dari
yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke waktu. Partograf standar WHO
dapat membedakan dengan jelas perlu atau tidaknya intervensi dalam persalinan.
Juga dapat dengan jelas dapat membedakan persalinan
normal dan abnormal dan mengidentifikasi wanita yang membutuhkan
intervensi.
Untuk menjamin kelangsungan hidup
ibu dan bayi, bidan harus menerapkan Asuhan
Persalinan Normal (APN) sebagai dasar dalam melakukan pertolongan
persalinan. Sebagai usaha mencegah terjadinya partus lama, APN mengandalkan
penggunaan partograf sebagai salah satu praktik pencegahan dan deteksi dini.
Partograf merupakan lembar berupa grafik yang digunakan untuk melakukan
pemantauan persalinan (Depkes, 2004).
Menurut WHO (1994) pengenalan
partograf sebagai protokol dalam manjemen persalinan terbukti dapat mengurangi
persalinan lama dari 6,4% menjadi 3,4%. Kegawatan bedah sesaria turun dari 9,9%
menjadi 8,3%, lahir mati intrapartum – dari 0,5% menjadi (0,3%), kejadian bedah
sesaria turun dari 6,2% menjadi 4,5%. WHO sangat merekomendasikan penggunaan
partograf dalam ruang bersalin.
Menurut Mochtar (1998), dengan
menggunakan partograf jika diperlukan dapat dengan tepat merujuk pasien ke
tempat pelayanan dengan fasilitas yang lebih lengkap. Sementara menurut
Sumapraja (1993) partograf adalah catatan grafik mengenai kemajuan persalinan
untuk memantau keadaan ibu dan janin, untuk menentukan adanya persalinan
abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan bedah kebidanan dan menemukan
Disproporsi Kepala Panggul (DKP) jauh sebelum persalinan menjadi macet.
Menurut WHO (1994) partograf
merupakan suatu sistem yang tepat untuk memantau keadaan ibu dan janin dari
yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke waktu. Partograf standar WHO
dapat membedakan dengan jelas perlu atau tidaknya intervensi dalam persalinan.
Juga dapat dengan jelas dapat membedakan persalinan
normal dan abnormal dan mengidentifikasi wanita yang membutuhkan
intervensi.
Oleh : Any Mega Ningrum


Tidak ada komentar:
Posting Komentar