Emboli Air Ketuban
By : Dewi Sapta Wati
Emboli air
ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki
sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan
shock. Dua puluh lima persen wanita yang menderita keadaan ini meninggal dalam
waktu 1 jam. Emboli cairan ketuban jarang dijumpai. Kemungkinan banyak kasus
tidak terdiagnosis yang dibuat adalah shock obastetrik, perdarahan post partum
atau edema pulmoner akut.
Faktor
predisposisi
a.
Multiparitas
b.
Usia lebih dari 30 tahun
c.
Janin besar intrauteri
d.
Kematian janin intrauteri
e.
Menconium dalam cairan ketuban
f.
Kontraksi uterus yang kuat
g.
Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi
Patofisiologi emboli air ketuban yaitu Perjalanan
cairan amnion memasuki sirkulasi ibu tidak jelas, mungkin melalui laserasi pada
vena endoservikalis selama diatasi serviks, sinus vena subplasenta, dan
laserasi pada segmen uterus bagian bawah. Kemungkinan saat persalinan, selaput
ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. Akibat tekanan
yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta
komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. Walaupun cairan
amnion dapat masuk sirkulasi darah tanpa mengakibatkan masalah tapi pada
beberapa ibu dapat terjadi respon inflamasi yang mengakibatkan kolaps cepat yang
sama dengan syok anafilaksi atau syok sepsis.
Selain itu, jika emboli air ketuban dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu dan sumbatan di paru-paru
meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul
dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru. Pada fase
I, akibat dari menumpuknya air ketuban di paru-paru terjadi vasospasme arteri
koroner dan arteri pulmonalis. Sehingga menyebabkan aliran darah ke jantung
kiri berkurang dan curah jantung menurun akibat iskemia myocardium.
Mengakibatkan gagal jantung kiri dan gangguan pernafasan.
Perempuan yang
selamat dari peristiwa emboli air ketuban mungkin memasuki fase II. Ini adalah fase perdarahan
yang ditandai dengan pendarahan besar dengan rahim atony dan Coagulation
Intaravakuler Diseminata ( DIC ). Masalah koagulasi sekunder mempengaruhi
sekitar 40% ibu yang bertahan hidup dalam kejadian awal. Dalam hal ini masih
belum jelas cara cairan amnion mencetuskan pembekuan. Kemungkinan terjadi
akibat dari embolisme air ketuban atau kontaminasi dengan mekonium atau sel-sel
gepeng menginduksi koagulasi intravaskuler.
Sekalipun nortalitas
tinggi, emboli cairan tidak selalu membawa kematian pada tiap kasus. 75% wanita
meninggal sebagai akibat langsung emboli air ketuban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar