EMBOLI AIR KETUBAN
1.
Pengertian Air Ketuban
Merupakan semacam cairan yang memenuhi seluruh rahim
dan memiliki berbagai fungsi untuk menjaga janin. Di antaranya, memungkinkan
janin dapat bergerak dan tumbuh bebas ke segala arah, melindungi terhadap
benturan dari luar, barier terhadap kuman dari luar tubuh ibu, dan menjaga
kestabilan suhu tubuh janin. Ia juga membantu proses persalinan dengan membuka
jalan lahir saat persalinan berlangsung maupun sebagai alat bantu diagnostik
dokter pada pemeriksaan amniosentesis. Air ketuban mulai terbentuk pada usia kehamilan
4 minggu dan berasal dari sel darah ibu. Namun sejak usia kehamilan 12 minggu,
janin mulai minum air ketuban dan mengeluarkan air seni. Sehingga terhitung
sejak pertengahan usia kehamilan, air ketuban sebagian besar terbentuk dari air
seni janin.Pada kehamilan normal, saat cukup bulan, air ketuban jumlahnya
sekitar 1.000 cc.
2. Pengertian Emboli Air Ketuban
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah
sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi
gangguan pernafasan yang akut dan shock. Dua 25% wanita yang menderita keadaan ini meninggal
dalam waktu 1 jam. Emboli cairan ketuban jarang dijumpai. Kemungkinan banyak
kasus tidak terdiagnosis yang dibuat adalah shock obstetrik, perdarahan post
partum atau edema pulmoner akut. Cara masuknya cairan ketuban Dua tempat utama
masuknya cairan ketuban kedalam sirkulasi darah maternal adalalah vena
endocervical ( yang dapat terobek sekalipun pada persalinan normal ) dan daerah
utero plasenta.Ruputra uteri meningkat kemungkinan masuknya cairan ketuban.
Abruption plasenta merupakan peristiwa yang sering di jumpai, kejadian ini
mendahului atau bersamaan dengan episode emboli.
Menurut dr. Irsjad
Bustaman, SpOG Emboli air ketuban (EAK) adalah masuknya cairan ketuban
beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini
ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban seperti lapisan kulit
janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan
kental. Emboli air ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus
yang sangat jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000
kelahiran. Bahkan hingga tahun 1950, hanya ada 17 kasus yang pernah dilaporkan.
Sesudah tahun 1950, jumlah kasus yang dilaporkan sedikit meningkat.
Emboli Air Ketuban umumnya
terjadi pada kasus aborsi, terutama jika dilakukan setelah usia kehamilan 12
minggu. Bisa juga saat amniosentesis (tindakan diagnostik dengan cara mengambil
sampel air ketuban melalui dinding perut). Ibu hamil yang mengalami trauma /
benturan berat juga berpeluang terancam EAK. Namun, kasus EAK yang paling sering
terjadi justru saat persalinan atau beberapa saat setelah ibu melahirkan
(postpartum). Baik persalinan normal atau sesar tidak ada yang dijamin
100% aman dari risiko EAK, karena pada saat proses persalinan, banyak vena-vena
yg terbuka, yang memungkinkan air ketuban masuk ke sirkulasi darah ibu. Emboli
air ketuban merupakan kasus yang berbahaya yang dapat membawa pada kematian.
Bagi yang selamat, dapat terjadi efek samping seperti gangguan saraf.
3. Faktor Penyebab
Patofisiologi belum jelas
diketahui secara pasti. Diduga bahwa terjadi kerusakan penghalang fisiologi
antara ibu dan janin sehingga bolus cairan amnion memasuki sirkulasi maternal
yang selanjutnya masuk kedalam sirkulasi paru dan menyebabkan :
·
Kegagalan
perfusi secara masif
·
Bronchospasme
·
Renjatan
4.
Patofisiolaogi
Studi-studi
pada primate dengan menggunakan injeksi cairan amnion homolog, serta study yang
dilakukan secara cermat terhadap model kambing, menghasilkan penanaman yang
penting tentang kelainan hemodinamik sentral (Adamsons dkk, 1971, Hankins
dkk,1993, Stolte dkk, 1976). Setelah suatu fase awal hipertensi paru dan
sistemik yang singkat, terjadi penurunan resistensi vaskuler sistemik dan
indeks kerja pulsasi ventrikel kiri ( Clark dkk, 1988). Pada fase awal sering
dijumpai desaturasi oksigen transient tetapi mencolok sehingga sebagian besar
pasien yang selamat mengalami cedera neurologist (Harvey dkk, 1996). Pada
wanita yang bertahan hidup melewati fase kolaps kardiovaskuler awal, sering
terjadi fase sekunder berupa cedera paru dan koagulopati.
Keterkaitan
hipertonisitas uterus dengan kolaps kardiovaskuler tampaknya lebih berupa efek
daripada kausa emboli cairan amnion (Clark dkk, 1995). Memang aliran darah
uterus berhenti total apabila tekanan intrauterine melebihi 35 sampai 40 mmHg
(Towell, 1976). Dengan demikian . kontraksi hipertonik merupakan waktu yang
paling kecil kemungkinannya terjadi pertukaran janin-ibu. Demikian juga, tidak
terjadi hubungan sebab akibat antara pemakaian oksitosin dengan emboli cairan
amnion dan frekuensi pemakaian oksitosin tidak meningkat pada para wanita ini
(American College Of Obstetricians and Gynecologists, 1993).
By. Arum....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar