IUFD
(Intra Uterin Fetal Death)
By: Dewi Sapta Wati
A.
TEORI MEDIS
1.
DEFINISI
a. IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum
dikeluarkan dengan sempurna dari ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan,yang
besarnya < 2500 gram usia kehamilan 20 minggu atau lebih
b. IUFD adalah kaadaan tidak adanya tanda – tanda
kehidupan janin dalam kandungan baik pada kehamilan yang besar dari 20 minggu
atau kurang dari 20 minggu.(Rustam Muchtar)
c. IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum
dikeluarkan dengan sempurna dari rahim ibunya tanpa menadang tuanya kehamilan.(
Sarwono )
d. Kematian janin dalam rahim (IUFD) adalah kematian
janin setelah 20 minggu kehamilan tetapi sebelum permulaan persalinan ini
menyebabkan komplikasi pada sekitatar 1 % kehamilan.
e. Kematian janin dalam rahim ialah kematian janin dalam
uterus yang beratnya 500 gram atau lebih,usia kehamilan telah mencapai 20
minggu atau lebih.(Obstetri dan Genekologi).
|
f. IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi
dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat
badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr).
|
g. Kematian janin dalam kandungan disebut Intra Uterin
Fetal Death (IUFD), yakni kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari
20 minggu atau pada trimester kedua. Jika terjadi pada trimester pertama
disebut keguguran atau abortus.
h. IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum
dikeluarkan dengan sempurna dari rahim ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan.

2.
PATOFISIOLOGI
Janin juga bisa mati dalam kandungan ( IUFD) kerena
baberapa faktor antara lain : gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan, hal tersebut menjadi berbahaya karena suplai makanan
yang di konsumsikan ibu tidak mencukupi kebutuhan janin sehingga pertumbuhan janin terhambat dan dapat
mengakibatkan kematian begitu pula dengan anemia, karena anemia adalah kejadian kekurangan FE maka jika
ibu kekurangan FE dampak pada janin adalah ireversible. Kerja organ-organ
maupun aliran darah janin tidak seimbang dengan pertumbuhan janin (IUGR) .
3.
ETIOLOGI
a. Faktor placenta
1)
Insufisiensi placenta
2)
Infark Placenta
3)
Solusio placenta
4)
Placenta Previa
b. Faktor Ibu
2)
Preeklamsi dan eklamsi
3)
Nefritis kronis
4)
Polihidrmnion dan oligohidramnion
5)
Sifilis
6)
Penaykit jantung
c. Faktor Intra Partum
1)
Perdarahan Antepartum
2)
Partus Lama
3)
Anastesi
4)
Obat – obatan
5)
Partus Macet
d. Faktor Janin
1)
Prematuritas
2)
Posmaturitas
3)
Kelainan Bawaan
4)
Perdarahan Otak
e. Faktor Tali Pusat
1)
Prolapsus tali pusat
2)
Lilitan tali pusat
3)
Fasa Previa
4)
Tali pusat pendek
4.
FAKTOR PREDISPOSISI
a.
Faktor Ibu (High Risk Mothers)
Yaitu status sosial ekonomi yang rendah,tingkat pendidikan ibu yang
rendah,umur ibu yang melebihi 30 tahun atau kurang dari 20 tahun,paritas
pertama atau paritas kelima atau lebih,tinggi dan BB ibu tidak
proporsional,kehamilan di luar persalinan,kehamilan tanpa pengawasan
antenatal,gangguan gizi dan
anemiadalam kehamilan,ibu dengan riwayat kehamilan/persalinan sebelumnya tidak
baik seperti bayi lahir mati,riwayat inkompatibilitas darah janin dan ibu.
b. Faktor Bayi (High Risk Infants)
Yaitu bayi dengan infeksi antepartum dan kelainan kongenital,bayi dengan diagnosa IUGR (Intra Uterine Growth Retardation),bayi dalam
keluarga problema sosial.
c. Faktor Dengan Kehamilan
Yaitu Abrupsio
placenta, placentaprevia, preeklamsi/eklamsi, polihidramnion, inkompabilitas golongan darah, kehamilan ganda, infeksi, diabetes.
5.
GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSIS
Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui:
a. Riwayat
Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui:
a. Riwayat
Tidak merasakan
gerakan janin selama 3 hari, tidak ada pembesaran perut, kadang ada bercak
cairan kecoklatan dari vagina, payudara melembut.
b. Gejala klinis kematian janin
Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya.
Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya.
c. Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta
Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan.
Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan.
d. USG
Tidak terlihat djj dan nafas janin, badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak, ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu, terlihat kerangka yang bertumpuk, tidak terlihat struktur janin, terlihat penumpukan tulang tengkorak, dan reduksi cairan yang abnormal.
Tidak terlihat djj dan nafas janin, badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak, ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu, terlihat kerangka yang bertumpuk, tidak terlihat struktur janin, terlihat penumpukan tulang tengkorak, dan reduksi cairan yang abnormal.
6.
KOMPLIKASI
Kematian janin
dalam kandungan 3-4 minggu, biasanya tidak membahayakan ibu. Setelah lewat 4
minggu maka kemungkinan terjadinya kelainan darah (hipofibrinogenemia) akan
lebih besar. Kematian janin akan menyebabkan desidua plasenta menjadi rusak
menghasilkan tromboplastin masuk kedalam peredaran darah ibu, pembekuan
intravaskuler yang dimulai dari endotel pembuluh darah oleh trombosit
terjadilah pembekuan darah yang meluas menjadi Disseminated intravascular
coagulation hipofibrinogenemia (kadar fibrinogen < 100 mg%).
Kadar normal fibrinogen pada wanita hamil adalah
300-700 mg%.Akibat kekurangan fibrinogen maka dapat terjadi hemoragik
postpartum. Partus biasanya
berlangsung 2-3 minggu setelah janin mati.Dampak psikologis dapat timbul pada
ibu setelah lebih dari 2 minggu kematian janin yang dikandungnya. Bila ketuban telah pecah, kemungkinan infeksi
meninggi.
7.
PENANGANAN
a.
Terapi
b.
Selama menunggu diagnosa pasti, ibu akan mengalami syok dan ketakutan
memikirkan bahwa bayinya telah meninggal. Pada tahap ini bidan berperan sebagai
motivator untuk meningkatkan kesiapan mental ibu dalam menerima segala
kemungkinan yang ada.
c.
Diagnosa pasti dapat ditegakkan dengan berkolaborasi dengan dokter
spesialis kebidanan melalui hasil USG dan rontgen foto abdomen, maka bidan seharusnya melakukan rujukan.
d.
Menunggu persalinan spontan biasanya aman, tetapi penelitian oleh Radestad
et al (1996) memperlihatkan bahwa dianjurkan untuk menginduksi sesegera mungkin
setelah diagnosis kematian in utero. Mereka menemukan hubungan kuat antara
menunggu lebih dari 24 jam sebelum permulaan persalinan dengan gejala
kecemasan. Maka sering dilakukan terminasi kehamilan.
1) Pengakhiran kehamilan jika ukuran uterus tidak
lebih dari 12 minggu kehamilan.
Persiapan:
a) Keadaan memungkinkan yaitu Hb > 10 gr%, tekanan
darah baik.
b) Dilakukanpemeriksaan laboratorium, yaitu:pemeriksaan
trombosit, fibrinogen, waktu pembekuan, waktu perdarahan, dan waktu protombin.
Tindakan:
(1) Kuretasi vakum
(2) Kuretase tajam
(3) Dilatasi dan
kuretasi tajam.
2) Pengakhiran kehamilan jika ukuran uterus lebih
dari 12 minggu sampai 20 minggu.
a) Misoprostol 200 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam
sesudah pemberian pertama.
b) Pemasangan batang laminaria 12 jam sebelumnya.
c). Kombinasi pematangan batang laminaria dengan
misoprostol atau pemberian tetes oksitosin 10 IU dalam 500 cc dekstrose 5%
mulai 20 tetes per menit sampai maksimal 60 tetes per menit.
Catatan:
dilakukan kuretase bila masih terdapat jaringan.
3) Pengakhiran kehamilan jika lebih dari 20 – 28
minggu.
a)
Misoprostol 100 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah
pemberian pertama.
b)
Pemasangan batang laminaria selama 12 jam.
c)
Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam dekstrose 5% mulai 20 tetes per menit
sampai maksimal 60 tetes per menit.
d)
Kombinasi cara pertama dan ketiga untuk janin hidup maupun janin mati.
e)
Kombinasi cara kedua dan ketiga untuk janin mati.
Catatan:
dilakukakan histerotomi bila upaya melairkan pervaginam dianggap tidak berhasil
atau atas indikasi ibu, dengan sepengetahuan konsulen.
4) Pengakhiran kehamilan jika lebih dari 28 minggu
kehamilan.
a)
Misoprostol 50 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah
pemberian pertama.
b)
Pemasangan metrolisa 100 cc 12 jam sebelum induksi untuk pematangan
serviks (tidak efektif bila dilakukan pada KPD).
c)
Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam dekstrose 5% mulai 20 tetes per menit
sampai maksimal 60 tetes untuk primi dan multigravida, 40 tetes untuk grande
multigravida sebanyak 2 labu.
d)
Kombinasi ketiga cara diatas.
Catatan:dilakukan
SC bila upaya melahirkan pervaginam tidak berhasil, atau bila didapatkan
indikasi ibu maupun janin untuk menyelesaikan persalinan.
e.
Periksa ulangan (follow up)
Dilakukan
kunjungan rumah pada hari ke 2, 6, 14, atau 40 hari. Dilakukan pemeriksaan nifas seperti biasa. Mengkaji ulang tentang keadaan psikologis, keadaan
laktasi (penghentian ASI), dan penggunaan alat kontrasepsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar