Rabu, 09 April 2014

IUFD



IUFD
(Intra Uterin Fetal Death)
 By: Dewi Sapta Wati



A.   TEORI MEDIS
1.    DEFINISI
a.   IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna dari ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan,yang besarnya < 2500 gram usia kehamilan 20 minggu atau lebih
b.   IUFD adalah kaadaan tidak adanya tanda – tanda kehidupan janin dalam kandungan baik pada kehamilan yang besar dari 20 minggu atau kurang dari 20 minggu.(Rustam Muchtar)
c.     IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna dari rahim ibunya tanpa menadang tuanya kehamilan.( Sarwono )
d.   Kematian janin dalam rahim (IUFD) adalah kematian janin setelah 20 minggu kehamilan tetapi sebelum permulaan persalinan ini menyebabkan komplikasi pada sekitatar 1 % kehamilan.
e.    Kematian janin dalam rahim ialah kematian janin dalam uterus  yang beratnya 500 gram atau lebih,usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih.(Obstetri dan Genekologi).
f.     IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr).

g.    Kematian janin dalam kandungan disebut Intra Uterin Fetal Death (IUFD), yakni kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau pada trimester kedua. Jika terjadi pada trimester pertama disebut keguguran atau abortus.
h.    IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna dari rahim ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan.
2.  PATOFISIOLOGI
Janin juga bisa mati dalam kandungan ( IUFD) kerena baberapa faktor antara lain : gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan, hal tersebut menjadi berbahaya karena suplai makanan yang di konsumsikan ibu tidak mencukupi kebutuhan janin sehingga pertumbuhan janin terhambat dan dapat mengakibatkan kematian begitu pula dengan anemia, karena anemia adalah kejadian kekurangan FE maka jika ibu kekurangan FE dampak pada janin adalah ireversible. Kerja organ-organ maupun aliran darah janin tidak seimbang dengan pertumbuhan janin (IUGR) .
3.   ETIOLOGI
a.   Faktor placenta
1)         Insufisiensi placenta
2)        Infark Placenta
3)        Solusio placenta
4)        Placenta Previa
b.   Faktor Ibu
1)         Diabetes mellitus
2)        Preeklamsi dan eklamsi
3)        Nefritis kronis
4)        Polihidrmnion dan oligohidramnion
5)        Sifilis
6)        Penaykit jantung
c.     Faktor Intra Partum
1)         Perdarahan Antepartum
2)        Partus Lama
3)        Anastesi
4)        Obat – obatan
5)        Partus Macet
d.   Faktor Janin
1)         Prematuritas
2)        Posmaturitas
3)        Kelainan Bawaan
4)        Perdarahan Otak
e.    Faktor Tali Pusat
1)         Prolapsus tali pusat
2)        Lilitan tali pusat
3)        Fasa Previa
4)        Tali pusat pendek

4.  FAKTOR PREDISPOSISI
a. Faktor Ibu (High Risk Mothers)
Yaitu status sosial ekonomi yang rendah,tingkat pendidikan ibu yang rendah,umur ibu yang melebihi 30 tahun atau kurang dari 20 tahun,paritas pertama atau paritas kelima atau lebih,tinggi dan BB ibu tidak proporsional,kehamilan di luar persalinan,kehamilan tanpa pengawasan antenatal,gangguan gizi dan anemiadalam kehamilan,ibu dengan riwayat kehamilan/persalinan sebelumnya tidak baik seperti bayi lahir mati,riwayat inkompatibilitas darah janin dan ibu.
b.   Faktor  Bayi (High Risk Infants)
Yaitu bayi dengan infeksi antepartum dan kelainan kongenital,bayi dengan diagnosa IUGR (Intra Uterine Growth Retardation),bayi dalam keluarga problema sosial.
c.     Faktor Dengan Kehamilan
Yaitu Abrupsio placenta, placentaprevia, preeklamsi/eklamsi, polihidramnion, inkompabilitas golongan darah, kehamilan ganda, infeksi, diabetes.

5.  GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSIS
Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui:
a. Riwayat
Tidak merasakan gerakan janin selama 3 hari, tidak ada pembesaran perut, kadang ada bercak cairan kecoklatan dari vagina, payudara melembut.
b. Gejala klinis kematian janin
Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya
.
c. Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta
Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan.
d. USG
Tidak terlihat djj dan nafas janin, badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak, ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu, terlihat kerangka yang bertumpuk, tidak terlihat struktur janin, terlihat penumpukan tulang tengkorak, dan reduksi cairan yang abnormal
.

6.  KOMPLIKASI
Kematian janin dalam kandungan 3-4 minggu, biasanya tidak membahayakan ibu. Setelah lewat 4 minggu maka kemungkinan terjadinya kelainan darah (hipofibrinogenemia) akan lebih besar. Kematian janin akan menyebabkan desidua plasenta menjadi rusak menghasilkan tromboplastin masuk kedalam peredaran darah ibu, pembekuan intravaskuler yang dimulai dari endotel pembuluh darah oleh trombosit terjadilah pembekuan darah yang meluas menjadi Disseminated intravascular coagulation hipofibrinogenemia (kadar fibrinogen  < 100 mg%).
Kadar normal fibrinogen pada wanita hamil adalah 300-700 mg%.Akibat kekurangan fibrinogen maka dapat terjadi hemoragik postpartum. Partus biasanya berlangsung 2-3 minggu setelah janin mati.Dampak psikologis dapat timbul pada ibu setelah lebih dari 2 minggu kematian janin yang dikandungnya. Bila ketuban telah pecah, kemungkinan infeksi meninggi.

7.     PENANGANAN
a.    Terapi
b.    Selama menunggu diagnosa pasti, ibu akan mengalami syok dan ketakutan memikirkan bahwa bayinya telah meninggal. Pada tahap ini bidan berperan sebagai motivator untuk meningkatkan kesiapan mental ibu dalam menerima segala kemungkinan yang ada.
c.    Diagnosa pasti dapat ditegakkan dengan berkolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan melalui hasil USG dan rontgen foto abdomen, maka bidan seharusnya melakukan rujukan.
d.   Menunggu persalinan spontan biasanya aman, tetapi penelitian oleh Radestad et al (1996) memperlihatkan bahwa dianjurkan untuk menginduksi sesegera mungkin setelah diagnosis kematian in utero. Mereka menemukan hubungan kuat antara menunggu lebih dari 24 jam sebelum permulaan persalinan dengan gejala kecemasan. Maka sering dilakukan terminasi kehamilan.
1)    Pengakhiran kehamilan  jika ukuran uterus tidak lebih dari 12 minggu kehamilan.
Persiapan:
a)     Keadaan memungkinkan yaitu Hb > 10 gr%, tekanan darah baik.
b)     Dilakukanpemeriksaan laboratorium, yaitu:pemeriksaan trombosit, fibrinogen, waktu pembekuan, waktu perdarahan, dan waktu protombin.
Tindakan:
(1) Kuretasi vakum
(2) Kuretase tajam
(3)  Dilatasi dan kuretasi tajam.
2)   Pengakhiran kehamilan  jika ukuran uterus lebih dari 12 minggu sampai 20 minggu.
a) Misoprostol 200 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah pemberian pertama.
b)  Pemasangan batang laminaria 12 jam sebelumnya.
c). Kombinasi pematangan batang laminaria dengan misoprostol atau pemberian tetes oksitosin 10 IU dalam 500 cc dekstrose 5% mulai 20 tetes per menit sampai maksimal 60 tetes per menit.
Catatan: dilakukan kuretase bila masih terdapat jaringan.
3)   Pengakhiran kehamilan  jika lebih dari 20 – 28 minggu.
a)      Misoprostol 100 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah pemberian pertama.
b)      Pemasangan batang laminaria selama 12 jam.
c)      Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam dekstrose 5% mulai 20 tetes per menit sampai maksimal 60 tetes per menit.
d)     Kombinasi cara pertama dan ketiga untuk janin hidup maupun janin mati.
e)      Kombinasi cara kedua dan ketiga untuk janin mati.
Catatan: dilakukakan histerotomi bila upaya melairkan pervaginam dianggap tidak berhasil atau atas indikasi ibu, dengan sepengetahuan konsulen.
4)   Pengakhiran kehamilan  jika lebih dari 28 minggu kehamilan.
a)    Misoprostol 50 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah pemberian pertama.
b)   Pemasangan metrolisa 100 cc 12 jam sebelum induksi untuk pematangan  serviks (tidak efektif bila dilakukan pada KPD).
c)    Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam dekstrose 5% mulai 20 tetes per menit sampai maksimal 60 tetes untuk primi dan multigravida, 40 tetes untuk grande multigravida sebanyak 2 labu.
d)   Kombinasi ketiga cara diatas.
Catatan:dilakukan SC bila upaya melahirkan pervaginam tidak berhasil, atau bila didapatkan indikasi ibu maupun janin untuk menyelesaikan persalinan.
e.    Periksa ulangan (follow up)
Dilakukan kunjungan rumah pada hari ke 2, 6, 14, atau 40 hari. Dilakukan pemeriksaan nifas seperti biasa. Mengkaji ulang tentang keadaan psikologis, keadaan laktasi (penghentian ASI), dan penggunaan alat kontrasepsi.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar