Rabu, 16 April 2014

Persalinan Ganda (kembar)

BAB I
PENDAHULUAN

Kehamilan ganda atau kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih ( Rustam Mochtar, 1998 ). Kehamilan kembar mempengaruhi ibu dan janin, diantaranya adalah kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya, terhadap janin yaitu usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemelli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya bayi premature akan tinggi.

Episiotomi By: Desy Widyaningrum

By: Desy Widyaningrum



Apa itu episiotomi
episiotomi merupakan suatu tindakan insisi pada perineum yang dimulai dari cincin vulva kebawah, menghindari anus dan muskulus spingter dimana insisi menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum untuk melebarkan orifisium ( lubang / muara ) vulva sehingga mempermudah jalan keluar bayi dan mencegah ruptur perinii totalis. 
  • Keterangan : Perineum adalah : daerah yang terletak antara vulva (organ genetalia eksterna wanita) dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm, atau antara bagian bawah vagina dengan bagian atas anus. Perineum meregang pada saat persalinan kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah robekan. 
  •  Rupture Perinii adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan, berbeda dengan episiotomy, robekan ini sifatnya traumatic karena perineum tidak kuat menahan regangan pada saat janin lewat. Adanya tindakan epistomi ini bertujuan salah satunya untuk mencegah terjadinya ruptur perinii. 
Apa tujuan episiotomya?
  • Tujuan episiotomi yaitu membentuk insisi  atau sayatan bedah yang lurus, sebagai pengganti robekan tak teratur yang mungkin terjadi akibat ruptur perineii. 
  • Episiotomi dapat mencegah vagina robek secara spontan, karena jika robeknya tidak teratur maka menjahitnya akan sulit dan hasil jahitannya pun tidak rapi. 
  • Tujuan lain episiotomi yaitu mempersingkat waktu ibu dalam mendorong bayinya keluar atau dengan kata lain mempercepat persalinan dengan melebarkan jalan lahir lunak atau mempersingkat kala II
  • Epistomy juga bertujuan mengurangi tekanan kepala anak sehingga dapat mencegah trauma kepala pada janin akibat jalan lahir yang sempit dan juga mencegah kerusakan pada spintcher ani akibat desakan kepala bayi
Kontra indikasi episiotomi antara lain adalah:
  • Bila persalinan tidak berlangsung pervaginam
  • Bila terdapat kondisi untuk terjadinya perdarahan yang banyak seperti penyakit kelainan darah maupun terdapatnya varises yang luas pada vulva dan vagina.
Apa saja jenis episiotomi?
  • Sayatan episiotomi umumnya menggunakan gunting khusus, tetapi dapat juga sayatan dilakukan dengan pisau. 
  • Sebelumnya ada 4 jenis episiotomi berdasarkan arah insisinya yaitu; Episiotomi medialis, Episiotomi mediolateralis, Episiotomi lateralis, dan Insisi Schuchardt. Namun menurut Benson dan Pernoll (2009), sekarang ini hanya ada dua jenis episiotomi yang di gunakan yaitu Episiotomi pada garis tengah (midline epuisiotomy) dan Episiotomi mediolateral
  • Episiotomi pada garis tengah (midline epuisiotomy) atau median
    • Sayatan yang di buat di garis tengah, dimana Insisi atau sayatan dimulai dari ujung terbawah introitus vagina atau pada garis tengah komissura posterior sampai batas atas otot- otot sfingter ani (tidak sampai mengenai serabut sfingter ani)
    • Keuntungan dari episiotomi medialis ini adalah: 
      • Perdarahan yang timbul dari luka episiotomi lebih sedikit oleh karena daerah yang relatif sedikit mengandung pembuluh darah.
      • Sayatan bersifat simetris dan anatomis sehingga penjahitan kembali lebih mudah dan penyembuhan lebih memuaskan.
      • Tidak akan mempengaruhi keseimbangan otot dikanan kiri dasar pelvis
      • Insisi akan lebih mudah sembuh, karena bekas insisi tersebut mudah dirapatkan.
      • Tidak begitu sakit pada masa nifas yaitu masa setelah melahirkan
      • Dispareuni jarang terjadi
    • Kerugiannya adalah terjadi perluasan laserasi ke sfingter ani (laserasi median sfingter ani) sehingga terjadi laserasi perinei tingkat III inkomplet atau laserasi  menjangkau hingga rektum (laserasi dinding rektum), sehingga terjadi ruptur perineii komplit  yang mengakibatkan kehilangan darah lebih banyak dan lebih sulit dijahit.
  • Episiotomi mediolateral
    • Sayatan yang di buat dari garis tengah kesamping menjauhi anus yang sengaja dilakukan menjauhi otot sfingter ani untuk mencegah ruptura perinei tingkat III, dimana insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina menuju ke belakang dan samping kiri atau kanan  ditengah antara spina ischiadica dan anus.
    • Dilakukan pada ibu yang memiliki perineum pendek,  pernah ruptur grade 3, dengan  Panjang sayatan kira-kira 4 cm dan  insisi dibuat pada sudut 45 derajat terhadap forset posterior pada satu sisi kanan atau kiri tergantung pada kebiasaan orang yang melakukannya.
    • Keuntungan dari epistomi mediolateral adalah Perluasan laserasi akan lebih kecil kemungkinannya mencapai  otot sfingter ani dan rektum sehingga dapat  mencegah  terjadinya laserasi perinei tingkat III ataupun laserasi perineum yang lebih parah yang sampai pada rectum.
    • Kerugian episiotomi mediolateral
      • Perdarahan luka lebih banyak oleh karena melibatkan daerah yang banyak pembuluh darahnya.  Daerah insisi kaya akan fleksus venosus
      • Otot-otot perineum terpotong sehingga penjahitan luka lebih sukar dan penyembuhan terasa lebih sakit dan lama
      • Insisi lateral akan menyebabkan distorsi (penyimpangan) keseimbangan dasar pelvis.
      • Otot – ototnya agak lebih sulit untuk disatukan secara benar (aposisinya sulit), sehingga terbentuk jaringan parut yang kurang baik
      • Rasa nyeri pada sepertiga kasus selama beberapa hari dan kadang – kadang diikuti dispareuni (nyeri saat berhubungan) 

PRE-EKLAMSIA DAN EKLAMSIA


PRE-EKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA


I.       PRE-EKLAMPSIA
  1. Definisi
Adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibatnya kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Super imposed pre-eklampsia-eklampsia adalah timbulnya pre-eklampsia atau eklampsia pada pada pasien yang menderita hipertensi kronik (Kapita Selekta Kedokteran, 2001).

  1. Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.

  1. Manifestasi Klinis
a.       Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali.
b.      Edema yang terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka.
c.       Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau tekanan diastolic > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit.
d.      Proteinuria bila terjadi protein sebanyak 0,3 g/l dalam urine 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukan + 1 atau 2 atau kedar protein ≥ 1 g/l dalam urine yang dikeluarkan dengan ketetr atau urine porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam.

  1. Tanda dan Gejala
a.       Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau diastolic ≥ 110 mmHg
b.      Proteinuria ± ≥ 5 g/24 jam atau ≥ 3 pada tes celup
c.       Oliguria (< 400 ml dalam 24 jam)
d.      Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan
e.       Nyeri epigastrium dan ikterus
f.       Edema paru atau sianosis
g.      Trombositopenia
h.      Pertumbuhan janin terhambat

  1. Komplikasi
a.       Atonia uteri (Uterus Couvelaire)
b.      Sindrom HELLP (Hemolisis, Elevated Liver Enzim, Low Platelet Count)
c.       Ablasi retino
d.      KID (Koagulasi Intravaskuler Diseminato)
e.       Gagal ginjal
f.   Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut atau kronisnya insufisiensi uteroplasental, misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas.

  1. Diagnosis Banding
1. Kejang, bisa disebabkan ensefalopati, hipertensi, epilepsy, tromboemboli, intoksikasi obat, trauma, hipoglikemia, hipokalsemia, atau alkalosis.
2.   Koma, bisa disebabkan epilepsy, sinkop, intoksikasi alkohol atau obat, asidosis, hipoglikemia, atau azotemia.

  1. Uji Diagnostik
a.       Uji diagnostik dasar
-          Pengukuran tekanan darah
-          Analisis protein dalam urine
-          Pemeriksaan edema
-          Pengukuran tinggi fundus uteri
-          Pemeriksaan funduskopik
b.      Uji laboratorium dasar
-          Evaluasi hematopoetik
-          Pemeriksaan fungsi hati
-          Pemeriksaan fungsi ginjal
c.       Uji untuk meramalkan hipertensi
-          Roll-over test
-          Pemberian infuse angiotensin II


II.    EKLAMPSIA
A.    Definisi
Eklampsia berasal dari bahasa Yunani dan berarti “Halilintar”. Kata tersebut dipakai karena gejala yang timbul dengan tiba-tiba tanpa didahului oleh tanda-tanda lain. Pada wanita yang menderita eklampsia timbul serangan kejang yang diikuti koma.
Timbulnya eklampsia disebabkan oleh :
-          Eklampsia gravidarium
-          Eklampsia parturientum
-          Eklampsia puerperate

B.     Tanda dan Gejala
1.      Nyeri kepala di daerah frontal
2.      Gangguan penglihatan
3.      Mual keras
4.      Nyeri epigastrium
5.      Hiperrefleksia
Konvulsi eklampsia dibagi dalam 4 tingkat, antara lain :
1.      Aura
-          Berlangsung kira-kira 30 detik
-          Mata penderita terbuka tanpa melihat
-          Kelopak mata dan matanya bergetar
-          Kepala diputar ke kanan/ke kiri
2.      Kejang tonik
-          Berlangsung ± 30 detik
-          Seluruh otot menjadi kaku
-          Wajah terlihat kaku
-          Tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam
-          Pernafasan berhenti
-          Muka menjadi sianotik
-          Lidah dapat tergigit
3.      Kejang klonik
-          Berlangsung antara 1 – 2 menit
-          Semua otot berkontraksi (berulang dengan tempo yang cepat)
-          Mulut membuka dan menutup, lidah tergigit
-          Bola mata menonjol
-          Keluar ludah dari mulut/berbusa
-          Wajah kongesti dan sianosis
-          Penderita jadi tidak sadar/koma
Kejang klonik ini dapat terjadi demikian hebatnya sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. Akhirnya kejang berhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur.
4.      Koma
Lamanya tingkat kesadaran tidak selalu sama, secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru dan berulang sehingga ia tetap dalam koma.

C.     Komplikasi
Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi yang biasanya terjadi pada pre-eklampsia dan eklampsia :
1.      Solusio plasenta
2.      Hipofibrinogenemia
3.      hemolisis
4.      Pendarahan otak
5.      Kelainan mata
6.      Edema paru-paru
7.      Nekrosis hati
8.      Sindroma HELLP
9.      Kelainan ginjal
10.  Prematuritas
 
D.    Pencegahan
Usaha-usaha untuk menurunkan frekwensi eklampsia :
1.      Meningkatkan jumlah balai pemeriksaan natenatal dan mengusahakan agar wanita hamil memeriksakan diri sejak hamil muda.
2.      Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda pre-eklampsia.
3.      Mengobati dan sesegera mungkin jika terjadi tanda dan gejala pre-eklampsia.
4.      Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah di rawat tanda-tanda pre-eklampsia tidak juga dapat dihilangkan.

E.     Penanggulangan
Tujuan utama ialah menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang man setelah keadaan ibu mengizinkan dalam pada itu, pertolongan yang perlu diberikan jika timbul kejang adalah :
1.      Sodium pentothal
2.      Sulfas magnesicus
3.      Iytik coktail

Perubahan Psikologi Pada Persalinan

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 KELAHIRAN BAYI DAN BERBAGAI PERMASALAHAN DI SEKITARNYA
Teori mengenai drama kelahiran untuk selamanya akan merupakan teka-teki yang tidak mungkin bisa dijawab secara memuaskan. Namun yang jelasadalah : anak bayi yang baru lahir itu sangatlah tidak sempurna, dan banyak memiliki kekurangan. Misalnya pusat otak, sistem persyarafan dan kemampuan-kemampuan psikis lainnya hampir semuanya belum berkembang secara penuh. Oleh karena itu, kelahiran merupakan satu bagian dari proses yang lebih lama dan lebih panjang dari ekstensi manusia, yang akan dilanjutkan dengan pertumbuhan serta perkembangan dari macam-macam fungsi fisik dan psikis yang berlangsung sepanjang hayat. Perkembangan ini harus dilaksanakan dengan usaha perjuangan yang tidak ada hentinya.
Bayi yang baru lahir itu terlentang dalan buaian tempat tidurnya, dilingkupi oleh berbagi pikiran, perasaan, sikap hidup/ attitude, harapan-harapan dan dambaan ayah ibunya, serta anggota keluarga lain. Jika lingkungan tersebut positif sifatnya, maka semua kombinasi pikiran, perasaan, dan perbuatan dari lingkungannya akan menyajikan pada bayi tadi bermacam-macam bentuk kenyamanan dan ketenangan. Sebaliknya, bila lingkungan tadi tidak menguntungkan, beriklimkan suasana negatif, dan kehadiran sang bayi tidak dikehendaki di tengah keluarga ini, maka semua dampak dari emosi-emosi yang konfliktus, dan sentimen-sentimen yang bermusuh serta tidak menyenangkan akan segera dirasakan oleh si bayi.
Selain itu, apabila sang ibu mengalami ketakutan, ketegangan batin, kebingungan, kecemasan, kerisauan dan kesusahan-kesusahan tertentu, maka interaksi ibu dengan bayi yang baru saja dilahirkannya bisa terganggu. Sebab, kecemasan, ketegangan, kerisauan dan kepedihan di hati ibu itu akan mengimbas dan menumbuhkan emosi-emosi yang sama pula pada bayinya.
Biasanya ibu macam ini menampilkan sikap yang ragu-ragu terhadap diri sendiri, menampakkan relasi yang tidak mapan, atau menjlin relasi yang kurang harmonis dengan orang lain ( terutama dengan suaminya ).

I.2 RUMUSAN MASALAH
a. apa faktor yang mempengaruhi proses persalinan
b. apa saja emosi-emosi pada masa hamil dan persalinan
c. faktor somatis dan psikis yang mempengaruhi persalinan
d. bentuk kegelisahan dan ketakutan menjelang persalinan
e. bagaimana proses persalinan itu bersifat somatis
f. bagaimana gejala psikologis yang menyertai proses kelahiran
g. bentuk dinamisme proses persalinan

I.3 TUJUAN
a. agar lebih memahami faktor apa saja yang mempengaruhi proses persalinan
b. mengetahi apa saja emosi-emosi pada ibu di masa hamil dan persalinan
c. mengetahui faktor somatis dan psikis yang mempengaruhi persalinan
d. mengetahui bentuk kegelisahan dan ketakutan menjelang persalinan
e. mengetahui sifat somatis dalam proses persalinan
f. mengetahui berbagai gejala psikologis yang menyertai persalinan
g. mengetahui bentuk-bentuk dinamisme proses persalinan


BAB II
PEMBAHASAN

II.1 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES MELAHIRKAN BAYI

Peristiwa kelahiran itu bukan hanya merupakan proses murni fisiologis belaka, akan tetapi banyak pula diwaranai komponen-komponen psikologis. Aktvitas melahirkan bayi ini cukup bervariasi, dari yang amat mudah dan lancar sampai yang paling sukar, berlangsung normal ataupun melalui proses yang abnormal, contohnya dengan secsio ceasaria.
Orang menyebutkan beberapa faktor penyebab dari mudah-sulitnya aktivitas melahirkan bayi, antara lain ialah :
1.   Perbedaan iklim dan lingkungan sosial, yang mempengaruhi fungsi-fungsi kelenjar endokrin. Dan kelenjar-kelenjar endokrin ini sangat berperan penting saat proses melahirkan.
2.   Cara hidup yang baik atau cara hidup yang sangat ceroboh dari wanita yang bersangkutan. Sebab cara hidup tersebut, terutama cara hidup seksualnya, mempengaruhi kondisi rahimnya dan organ genitalnya.
3.   Kondisi otot-otot panggul wanita. Bahwa otot panggul wanita primitif itu lebih efisien daripada otot panggul wanita modern yang serba manja. Sebab, wanita primifif itu hidupnya lebih aktif, dan kerjanya jauh lebih berat guna mengatasi tantangan alam, jika dibandingkan dengan wanita modern yang hidup dalam kebudayaan tinggi dengan bermacam kenyaman dan fasilitas. Kerja berat dan kehidupan aktif jelas memperkuat otot panggulnya, sehingga memudahkan proses kelahiran. Lagi pula, wanita primitif memiliki toleransi lebih besar terhadap penderitaan dan rasa sakit ketika menghadapi persalinan. Dibandingkan dengan proses reproduksi wanita modern yang mengalami proses degeneratif diakibatkan kebudayaan yang memberikan segala kemudahandan kemanjaan yang menumbuhkan mental kurang terlatih dalam melahirkan bayinya sendiri.
4.    Kondisi psikis/ kejiwaan wanita yang bersangkutan. Proses melahirkan sangat dipengaruhi emosi dari sang calon ibu. Selain itu, biasanya proses melahirkan itu banyak dipengaruhi oleh proses identifikasi wanita yang bersangkutan dengan ibunya. Jika ibunya dahulu mudah dalam melahirkan anak-anaknya, maka pada umumnya kelak anaknya juga akan mudah dalam mlahirkan. Dengan demikian, pengaruh-pengaruh psikologi ibu ikut memainkan peran dalam fungsi reproduksi anak perempuannya. Fakta membuktikan, bahwa baik di kalangan wanita yang berkebudayaan primitif ataupun modern, seringkali berlangsung peristiwa sebagai berikut :
Wanita seringkali dihadapkan pada gangguan-gangguan yang cukup serius dan macam-macam kesulitan sewaktu proses persalinan. Proses kesulitan yang mendorong orang untuk mengenmbangkan ilmu kebidanan dan kedokteran guna memperingan penderitaan ibu yang sedang melahirkan bayinya.

II.2 EMOSI-EMOSI PADA MASA HAMIL DAN PROSES PERSALINAN
Memang benar, bahwa pada zaman mutakhir ini kepercayaan pada keuatan gaib selama proses reproduksisudah sangat berkurang. Sebab, secara biologis, anatomis, dan fisiologis berbagai kesulitan dalam persalinan dapat dijelaskan dengan alasan ilmu pengetahuan. Namun dalam abad yang modern saat ini, bentuk kesulitan yang disebabkan oleh kegaiban telah berubah menjadi :
ü  Kecemasan dan ketakutan terhadap dosa-dosa atau kesalahan –kesalahan sendiri. Karena rasa berdosa inilah wanita takut jika bayi yang akan dilahirkan akan mengalami cacat jasmani ataupun rohani.
Kita bisa memahami bahwa proses kelahiran sangat dipengaruhi  pada kondisi biologis. Akan tetapi, hampir tidak ada kondisi biologis yang tidak dipengaruhi oleh kondisi psikis. Maka dapat dimengerti bahwa rasa mual, capek, tidak dapat tidur dengan nyenyak, sesak napas dan sebagainya tersebut pasti mengakibatkan timbulnya rasa tegang, ketakutan, kecemasan, konflik batin dan material psikis lainnya. Hal ini diperparah dengan bertmabahnya beban jasmani selama mengandung, apalagi pada saat mendekati proses persalinan.
Sue, dkk (dalam Kartikasari, 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal yaitu :
1.    Manifestasi kognitif
Terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi,

2.    Perilaku motorik
Kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar,

3.    Perubahan somatic
Muncul dalam keadaan mulut kering, tangan dan kaki kaku, diare, sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lainlain. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung, peningkatan respirasi, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lainlain,

4.    Afektif
Diwujudkan dalam perasaan gelisah, perasaan tegang yang berlebihan.

II.3 FAKTOR PSIKIS YANG MEMPENGARUHI PROSES PERSALINAN BAYI

Setiap proses biologis dari fungsi keibuan dan reproduksi yaitu sejak turunnya bibit ke dalam rahim sampai saat melahirkan bayi senantiasa dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh psikis tertentu. Maka ada :
ü  Interdependensi faktor psikis dan faktor  fisik
ü  Jadi pada fungsi reproduksi yang sifatnya biologis itu selalu dimuati pula oleh elemen-elemen psikis
Dengan demikian segenap perkembangan psikis dan pengalaman emosional di masa silam dari wanita yang bersangkutan ikut berperan dalam kegiatan mempengaruhi mudah atau sukarnya proses melahirkan.
Sangat menarik hati jika kita bisa mendapatkan wawasan tentang reaksi-reaksi psikis dari wanita yang sedang melahirkan bayinya secara spontan. Yaitu memperhatikan:
ü  Pengalaman feminin, kebahagiaan, kepedihan/kesakitan yang paling memuncak dan paling mengesankan dalam hidupnya, terutama pada saat kelahiran bayi pertamanya.

Secara umum, gangguan psikis ini disebabkan beberapa faktor, yaitu:

·         Perubahan hormon

Perlu diketahui, ketika mengandung bahkan setelah melahirkan terjadi "fluktuasi" hormonal dalam tubuh. Hal inilah yang antara lain menyebabkan terjadinya gangguan psikologis pada ibu yang baru melahirkan.

·         Kurangnya persiapan mental

Yang dimaksud di sini adalah kondisi psikis atau mental yang kurang dalam menghadapi berbagai kemungkinan seputar peran ganda merawat bayi, pasangan, dan diri sendiri. Terutama  hal-hal baru dan "luar biasa" yang bakal dialami setelah melahirkan. Ini tentunya dapat menimbulkan masalah. Penderitaan fisik dan beban jasmaniah selama berminggu-minggu terakhir masa kehamilan itu menimbulkan banyak gangguan psikis dan pada akhirnya mereganggkan jalinan hubungan ibu dan anak yang semula tunggal dan harmonis. Maka beban inilah yang menjadi latar belakang dari impuls-impuls emosional yang diwarnaioleh sika permusuhan terhadap bayinya. Lalu ibu tersebut mengharapkan jika bayi yang dikandungnya untuk segera dikeluarkan dari rahimnya.

·         Keinginan narsistis

Keinginan yang narsistis ini cenderung menolak kelahiran bayinya, dan ingin mempertahankan bayinya selama mungkin di dalam kandungan. Peristiwa ini disebabkan oleh :
a)      Fantasi tentang calon bayinya yang akan menjadi objek kasih sayang
b)      Beban fisik oleh semakin membesarnya bayi dalam kandungan
Kedua peristiwa itu menimbulkan kecenderungankuat untuk cepat-cepat “ melemparkan sang bayi keluar “ dari kandungan.

II.4 KEGELISAHAN DAN KETAKUTAN MENJELANG KELAHIRAN BAYI

Pada setiap wanita baik yang bahgia maupun yang tidak bahagia pasti dihinggapi campuran perasaan yaitu : rasa kuat, berani, rasa lemah hati, takut, ngeri,rasa cinta dan benci, yang semuanya menjadi semakin intensif pada saat mendekati masa kelahiran bayinya.
Apakah yang menjadi sebab semua kegelisahan dan ketakutan ini ?
Sebab-sebabnya antara lain :
1)      Takut mati
Walaupun proses kelahiran adalah proses yang fisiologis yang normal, namun hal tersebut tidak lantas menghilangkan resiko-resiko dan bahaya kematian. Bahkan proses kelahiran yang normal sekalipun senantiasa disertai pendarahan dan kesakitan-kesakitan yang hebat. Peristiwa-peristiwa inilah yang menimbulkan ketakutan-ketakutan, terutama takut akan mati, baik kematian sendiri, maupun kematian bayi yang dilahirkannya.
2)      Trauma kelahiran
Trauma kelahiran ini berupa ketakutan akan berpisahnya bayi dari rahim ibunya. Yaitu merupakan ketakutan untuk dilahirkan di dunia, dan takut terpisahnya dari ibunya.
Ketakutan berpisah ini ada kalanya menghinggapi seorang ibu yang merasa amat takut kalau bayinya akan berpisah dengan dirinya.

3)      Perasaan bersalah/berdosa
Sebab lain yang menimbulkan ketakutan akan kematian pada proses melahirkan bayinya ialah :
Perasaan bersalah atau berdosa terhadap ibunya.
Dalam semua aktivitas reproduksinya, wanita itu banyak melakukan identifikasi terhadap ibunya. Jika identifikasi ini menjadi salah bentuk, dan wanita tadi banyak mengembangkan mekanisme rasa-rasa bersalah dan rasa berdosa terhadap ibunya, maka peristiwa tadi membuat dirinya menjadi tidak mampu berfungsisebagai ibu yang bahagia, sebab selalu saja ia dibebani atau dikejar-kejar oleh rasa berdosa.
Perasaan berdosa ini erat kaitannya dengan ketakutan akan mati pada saat wanita tersebut melahirkan bayinya. Oleh karena itu, kita jumpai adat kebiasaan sejak zaman dulu sampai sekarang berupa :
Ø Orang lebih suka dan merasa lebih mantap kalau ibunya/ neneknya menunggui saat proses persalinan.
Ø Maka sangat pentinglah kehadiran ibu tersebut saat anaknya melahirkan.

4)      Ketakutan riil
Pada setiap wanita hamil, ketakutan untuk melahirkan bayinya itu bisa diperkuat oleh sebab-sebab konkret lainnya. Misalnya :
a)    Takut kalau-kalau bayinya akan lahir cacat, atau lahir dalam kondisi yang patologis.
b)   Takut kalau bayinya akan bernasib buruk disebabkan oleh dosa-dosa ibunya di masa lampau
c)    Takut kalau beban hidupnya akan menjadi semakin berat oleh lahirnya sang bayi
d)   Munculnya elemen ketakutan yang sangat mendalam dan tidak disadari, kalau ia akan dipisahkan dari bayinya
e)    Takut kehilangan bayinya yang sering muncul sejak masa kehamilan sampai waktu melahirkan bayinya. Ketakutan ini bisa diperkuat oleh rasa-rasa berdosa atau bersalah.
Sehubungan dengan ini, persiapan mental sebagai mekanisme pertahanan diri menghadapi kelahiran bayi ( dan mengatasi perasaan takut mati ) itu sangat penting untuk :
Ø Meredam segala bentuk kecemasan dan ketakutan
Ø Dan bagi suksesnya kelahiran sang bayi
Persiapan mental yang cukup lama dan tangguh jauh sebelum kelahiran bayi itu bisa mengumpulkan tenaga-tenaga guna melindungi diri dari segala untuk kepanikan, serta memberikan rasa aman untuk diri sendiri.

II.6 PROSES PERSALINAN BERSIFAT PSIKOSOMATIS
Jelaslah kini bahwa proses melahirkan bayi itu tidak melulu somatis sifatnya, akan tetapi bersifat psiko somatis. Sebab banyak elemen psikis ikut mempengaruhi kelancaran atau kelmbatan proses melahirkan bayi tersebut.
Pada seluruh proses petsalinan segala pengaruh psikis bisa menghambat atau memperlambat proses persalinan, atau bisa juga mempercepat kelahiran bayi.maka fungsi biologis dari reproduksi itu amat dipengaruhi oleh kehidupan psikis dan emosional wanita tersebut.
Oleh karena itu sejak awal kehamilan seorang wanita haruslah memiliki kesiapan dan kerelaan untuk mempersiapan diri secara fisik dan mental untuk kelahiran bayinya.untuk memperjelas proses periode terahir masa kehamilan, yaitu persalinan dikemukakan beberapa peristiwa sebagai berikut:
Fenomena fisiologis pada kelahiran bayi yang normal itu ditandai oleh tiga tahap yaitu:
1.        Proses melebar atau mengembang
Proses mengembanganya saluran vagina dan ujung uterus pada tahap pertama disertai kontraksi-kontraksi lemah dari otot-otot tahim disertai rasa sakit sedikit-sedikit yang berlangsung secara berkepanjangan.hal tersebut dijadikan tanda untuk berjaga-jaga dan mengadakan persiapan terahir.
2.      Proses melontarkan atau melahirkan.
Selama fase melahirkan kontraksi pada uterus berlangsung terus.hal ini diakibatkan oleh karena otot-otot pada ujung uterus yang bergerak memanjang disertai otot-otot yang bergerak melintang berbatsan denganya.kontraksi sirkuler atau melingkar tersebut bergerak semakin ke atas, diikuti kesakitan dan rasa nueri yang semakin hebat.
Fungsi otot-otot uterus, kontraksi dan kelahiran bayi itu sangat bergantung pada rangsangan-rangsangan saraf.dan rangsangan saraf ini  bersumber pada  tiga sistem yaitu:
a.       Sistem saraf simpatis  yang menghambat kelahiran janin
b.      Sistem saraf parasimpatis yang melancarkan kelhiran janin
c.       Saraf lokal dari ganglia dalam otot-otot uterus yang ikut membentu kontraksi kelahiran.
Maka proses kelahiran bayi itu bergantung pada interaksi harmonis dari macam-macam otot dan rangsangan saraf tadi.yang hal tersebut sangat bergantung pada pengarus emosi wanita yang akan melahirkan.
3.      Periode post partum
Biasanya berlangsung selama 15-30 menit sesudah kelahiran bayi.pada fase ini sisa-sisa produk kehamilan yaitu plasenta dan sisa-sisa darah dikeluarkan semua.
Ini dapat dipahami bahwa proses kelahiran dengan macam-macam ketakutan dan kecemasan itu merupakan semaian yang subur bagi pengaruh psikogenik.sikap ibu terhadap bayinya, kesiapan mental untuk funsi keibuan, segenap peristiwa selama kehamilan, seruruh pengalamn hidupnya, semua itu memberikan kontribusi terhadap keadaan psikis pada proses kelahiran.

II.7 GEJALA PSIKOLOGIS YANG MENYERTAI PROSES KELAHIRAN
Fenomena psiologis yang menyertai proses persalinan itu bermacam-macam. Setiap wanita memiliki disposisi kepribadian yang definitif dan mewarnai proses kelahiran bayinya. Pada garis besarnya bisa dikatakan “ mewarnai“ itu mengandung pengertian menonjolkan kepasifan atau keaktifan pada saat kelahiran bayinya.
Tugas penting atau yang paling utama dari seorang wanita dalam proses kelahiran bayinya, khusus pada periode permulaan (periode mulai melebarny saluran vagina dan ujung uterus) ialah sebagai berikut:
a.       Sepenuhnya patuh mengikuti kekeuatan-kekuatan naluriah dari dalam
b.      Memberika partisipasi sepenuhnya
c.       Dengan kesabaran sanggup menderita segala kesakitan.
Selanjutnya , jika proses kesakitan pertama-tama menjelang kelahiran itu disertai banyak keteganagan batin dan rasa cemas atau ketakutan yang berlebihan, atau disertai kecenderungan yang sangat kuat untuk bertingkah super aktif, dan mau mengatur sendiri proses persalinan maka:
a.       Proses kelahiran bayi bisa menyimpang dari pola normal dan spontan
b.      Prosenya kan sangat terganggu (merupakan kelahiran yang abnormal).
Situasi pada periode kedua berlangsung agak berbeda sekarang wanita harus berkerja keras menahan kesakitan yang semakin hebat. Dan tekanan-tekanan dalam perut harus disertai usaha merejan secara sungguh-sungguh.semua ini dibarengi dengan kontrak-kontraksi dari dalam, diperkuat oleh kemamuan sendiri, dan dirangsang oleh dorongan serta sugesti dari luar yaitu dari bidan, dokter dll maka segenap daya psikis dan fisik wanita benar-benar dikonsentrasikan pada pengabdian diri untuk melanggenggkan generasi manusia dengan jalan melahirkan bayinya.

II.8 DINAMISME PROSES KELAHIRAN
Dinamisme proses kelahiran itu sangat khas yaitu:
1.      Segenap energi psikis dan kemampuan jasmaniah calon ibu yang bersangkutan akan dikonsentrasikan pada aktivitas melahirkan bayi.
2.      Lalu ia merasakan emosi-emosi kebahagian dan kenikmatan, karena terlepas bebas dari seribu satu macam kecemasan, kesakitan, dan penderitaan fisik selam kurang lebih 24-48 jam, sejak kesakitan preliminer, merejan samapai kelahiran bayinya.
3.      Keingintahuan akan jenis kelamin anaknya yang baru lahir
4.      Relasi-relasi afiksional penuh kasih sayang yang pertama kali dengan bayinya yang cantik mungil.
Maka semua unsur ini memberikan satu puncak kebahagiaan jiwa pada dirinya.kemudian terpancar perasaan cinta kasih yang tidak kunjung habis terhadap bayi atau anaknya.
  

BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
Dengan semakin majunya peradaban, kepercayaan takhayul terhadap kekuatan-kekuatan gaib dan supranatural yang membarengi fungsi reproduksi menjadi semakin menipis. Sebab kemajuan teknis di bidang biologi, anatomi, fisiologi, kedokteran, dan medis banyak sekali mengurangi resiko kematian saat persalinan. Akan tetapi, dalam adab kebudayaan modern dengan macam-macam kemajuan ilmiah dan berbagai macam paham materialistis sekarang ini, bentuk hantu-hantu gaib yang mengancam kelahiran itu mendapat bentuk baru yaitu :
Kecemasan atau ketakutan terhadap dosa-dosa sendiri, terutama dosa terhadap ibu. Dan kecemasan tersebut beralih bentuk menjadi perasaan takut mati di waktu melahirkan bayi, takut kalau dirinya sendiri yang mati atau bayinya, diakibatkan karma dari dosa-dosa terhadap ibunya.

DAFTAR PUSTAKA

Kartono, kartini. Psikologi Wanita Jilid 2 ( Mengenal Wanita Sebagai Ibu & Nenek ). Jakarta : Mandar Maju